Kamis, 26 Januari 2012

Efisiensi Usaha Ternak

Analisis Jurnal
Judul                          : Pengembangan Usaha Ternak Sapi Potong Berorientasi Agribisnis Dengan Pola  Kemitraan
Pengarang                     : Suryana
Tahun                           : Diajukan 24 Oktober 2008; Diterima 20 Januari 2009
Tema                            : Efisiensi Usaha Ternak
Latar Belakang Masalah :
                         Sapi potong merupakan penyumbang daging terbesar dari kelompok ruminansia terhadap produksi daging nasional sehingga usaha ternak ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai usaha yang menguntungkan. Sapi potong telah lama dipelihara oleh sebagian masyarakat sebagai tabungan dan tenaga kerja untuk mengolah tanah dengan manajemen pemeliharaan secara tradisional. Pola usaha ternak sapi potong sebagian besar berupa usaha rakyat untuk menghasilkan bibit atau penggemukan, dan pemeliharaan secara terintegrasi dengan tanaman pangan maupun tanaman perkebunan.
Pengembangan usaha ternak sapi potong berorientasi agribisnis dengan pola kemitraan merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan keuntungan peternak. Kemitraan adalah kerja sama antarpelaku agribisnis mulai dari proses praproduksi, produksi hingga pemasaran yang dilandasi oleh azas saling membutuhkan dan menguntungkan bagi pihak yang bermitra. Pemeliharaan sapi potong dengan pola seperti ini diharapkan pula dapat meningkatkan produksi daging sapi nasional yang hingga kini belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat. Di sisi lain, permintaan daging sapi yang tinggi merupakan peluang bagi usaha pengembangan sapi potong lokal sehingga upaya untuk meningkatkan produktivitasnya perlu terus dilakukan.
Metodologi                        :
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi, dan literatur. Data yang diperoleh peneulis adalah data sekunder karena penulis mengambil data dari Direktorat Jenderal Peternakan (2007). Tahap pengolahan dan analisis data meliputi dua tahap yaitu tahap analisis kualitatif dan kuantitatif.
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sapi potong, pola usaha, dan sistem agribisnis, serta peluang pengembangan. Variable ini saling berhubungan satu sama lain sehingga dapat menjelaskan mengenai pengembangan usaha ternak sapi potong berorientasi agribisnis dengan pola kemitraan.
Hasil dan Analisis              :
                Program pengembangan agribisnis diarahkan untuk memfasilitasi kegiatan yang berorientasi agribisnis dan memperluas kegiatan ekonomi produktif petani, serta meningkatkan efisiensi dan daya saing. Upaya peningkatan daya saing usaha ternak sapi potong rakyat secara teknis dapat dilakukan dengan meningkatkan produktivitas sehingga produknya dapat dijual pada tingkat harga yang cukup murah tanpa mengurangi keuntungan peternak. Perluasan kegiatan ekonomi yang berpeluang untuk dilaksanakan adalah mendorong kegiatan usaha tani terpadu yang mencakup beberapa komoditas, seperti integrasi tanaman ternak atau  tanaman-ternak-ikan.
                Sistem Agribisnis dan Kemitraan Sapi Potong
Pembangunan pertanian dan peternakan berdasarkan konsep agribisnis perlu memperhatikan dua hal penting; pertama, berupaya memperkuat subsistem dalam satu sistem yang terintegrasi secara vertikal dalam satu kesatuan manajemen, dan kedua menciptakan perusahaan-perusahaan agribisnis yang efisien pada setiap subsistem. Jika hal ini dapat terwujud maka daya saing produk peternakan (daging, susu, dan telur) akan meningkat, terutama dalam menghadapi pasar global (Siregar dan Ilham 2003).
Agar pengembangan sistem usaha agribisnis dapat mengakomodasi tujuan untuk meningkatkan daya saing produk dan sekaligus melibatkan peternak skala menengah ke bawah, ada tiga alternatif kegiatan yang dapat dilakukan, yaitu: 1) integrasi vertical yang dikelola secara profesional oleh suatu perusahaan swasta, 2) integrasi vertikal yang dilakukan peternak secara bersama-sama yang tergabung dalam wadah koperasi atau organisasi lainnya, dan 3) kombinasi keduanya atau dikenal  dengan sistem usaha kemitraan.
Kemitraan dimaksudkan sebagai upaya pengembangan usaha yang dilandasi kerja sama antara perusahaan dan peternakan rakyat, dan pada dasarnya merupakan kerja sama vertikal (vertical partnership). Kerja sama tersebut mengandung pengertian bahwa kedua belah pihak harus memperoleh keuntungan dan manfaat. Menurut Saptana et al. (2006), kemitraan adalah suatu jalinan kerja sama berbagai pelaku agribisnis, mulai dari kegiatan praproduksi, produksi hingga pemasaran. Kemitraan dilandasi oleh azas kesetaraan kedudukan, saling membutuhkan, dan saling menguntungkan serta adanya persetujuan di antara pihak yang bermitra untuk saling berbagi biaya, risiko, dan  manfaat.
Sedikitnya ada lima manfaat pembangunan pertanian yang berkelanjutan melalui pendekatan sistem usaha agribisnis dan kemitraan, yaitu: 1) mengoptimalkan alokasi sumber daya pada satu titik waktu dan lintas generasi, 2) meningkatkan efisiensi dan produktivitas produk pertanian/peternakan karena adanya keterpaduan produk berdasarkan tarikan permintaan (demand driven), 3) meningkatkan efisiensi masing-masing subsistem agribisnis dan harmonisasi keterkaitan antarsubsistem melalui keterpaduan antarpelaku, 4) terbangunnya kemitraan usaha agribisnis yang saling memperkuat dan menguntungkan, dan 5) adanya kesinambungan usaha yang menjamin stabilitas dan kontinuitas  pendapatan seluruh pelaku agribisnis.
Peluang Pengembangan
Indonesia memiliki peluang dan potensi yang besar dalam pengembangan sapi potong. Salah satu pendukungnya adalah peternak telah sejak lama memelihara sapi potong dan mengenal dengan baik teknik beternak secara sederhana serta ciri masing-masing jenis sapi yang  ada di suatu lokasi.
Kebijakan impor sapi dan daging sapi dapat menghambat laju pengurasan sapi di dalam negeri, selain menciptakan peluang usaha yang menguntungkan bagi importir sapi potong. Selain itu, upaya pengembangan sapi potong perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain: 1) daging sapi harus dapat dikonsumsi oleh masyarakat dengan harga yang terjangkau, 2) peternakan sapi potong di dalam negeri (peternakan rakyat) secara finansial harus menguntungkan sehingga dapat memperbaiki kehidupan peternak sekaligus merangsang peningkatan produksi yang berkesinambungan, dan 3) usaha ternak sapi potong harus memberikan kontribusi yang positif terhadap  perekonomian nasional.
 
Kesimpulan                        :
                        Sapi potong merupakan salah satu ternak ruminansia yang mempunyai kontribusi terbesar sebagai penghasil daging. Selama ini produksi daging sapi di Indonesia belum mampu memenuhi permintaan dalam negeri yang cenderung meningkat setiap tahun. Oleh karena itu, pemerintah melakukan impor daging sapi dan bakalan antara lain dari Australia, Selandia Baru,  dan Amerika Serikat.
            Persepsi peternak terhadap sistem usaha agribisnis sapi potong dengan pola kemitraan sangat baik. Hal ini ditunjukkan dengan makin berkembangnya usaha ternak sapi potong melalui pola kemitraan yang dilakukan oleh beberapa peternak atau pengusaha peternakan berskala besar karena pola tersebut secara ekonomis memberikan keuntungan yang layak kepada pihak yang bermitra.
Pengembangan usaha ternak sapi potong berorientasi agribisnis dengan pola kemitraan diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi kesejahteraan masyarakat peternak khususnya, dan perekonomian nasional umumnya (Kuswaryan et al. 2004). Hal ini ditunjukkan oleh manfaat ekonomi yang dihasilkan dari kegiatan ini yang bernilai positif, yang berarti bahwa pengembangan peternakan sapi potong dalam negeri  mampu menghasilkan surplus ekonomi.
Rekomendasi                :
Jurnal penelitian ini cukup baik dan informatif tetapi sebaiknya dalam tahap pengolahan data kuntitatifnya menggunakan model matematis agar lebih akurat dan mudah dipahami. Selain itu, dalam hasil dan analisis, penulis sudah menjelaskan dengan detail hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi lokasi industri dengan mendeskripsikannya, tetapi akan lebih mudah dan menarik bila disajikan dengan grafik pula.




Sumber:  Pengembangan Usaha Ternak Sapi Potong Berorientasi Agribisnis Dengan Pola Kemitraan
Mata Kuliah Teori Ekonomi 2 - Dr. Prihantoro

UTILITAS

       Dalam ekonomi mikro, akan berkaitan salah satunya adalah dengan utilitas. Yang dimaksud dengan utilitas adalah jumlah dari kepuasan relatif yang dicapai oleh seseorang dari mengonsumsi barang-barang. Kepuasan bersifat relatif, bukan pointer dan hanya dapat diukur tambahan kepuasannya. Artinya, barang yang dikonsumsi oleh seseorang memiliki kepuasan tertentu, tetapi belum tentu orang lain merasakan kepuasan yang sama oleh orang tersebut. Tambahan kepuasan dapat diukur melalui kurva indiferen. Apabila kurva indiferen menjauhi titik origin, maka kepuasan konsumen akan semakin besar. Semakin tinggi kepuasan seseorang dari mengonsumsi suatu barang, semakin diinginkan barang tersebut oleh seseorang. Sebaliknya, semakin rendah kepuasan seseorang dari mengonsumsi suatu barang, maka barang tersebut akan berkurang nilai gunanya atau semakin tidak diinginkan oleh seseorang.
       Utilitas menjelaskan pemenuhan kebutuhan seseorang. Dari sini sudah diketahui bahwa kebutuhan manusia sangat terbatas, untuk memperoleh kebutuhan tersebut dibutuhkan suatu pengorbanan sesuai dengan kemampuan konsumen tersebut. Kita misalkan, seseorang yang gaji awalnya dapat digunakan untuk membeli suatu barang, dari pemenuhan barang itu orang tersebut dapat merasakan kepuasan. Apabila gajinya berkurang, orang tersebut tidak dapat merasakan kepuasan seperti sebelumnya karena dia tidak dapat membeli barang tersebut seperti sebelum gajinya berkurang. Apabila gajinya bertambah dari gaji awal, orang tersebut juga tidak dapat merasakan kepuasan, melainkan hanya dapat mencapai titik optimum. Dari sinilah kepuasan seseorang tersebut yang dapat diukur dengan kurva indiferen.

Mata Kuliah Teori Ekonomi 2 - Dr. Prihantoro

Kamis, 26 Januari 2012

Efisiensi Usaha Ternak

Analisis Jurnal
Judul                          : Pengembangan Usaha Ternak Sapi Potong Berorientasi Agribisnis Dengan Pola  Kemitraan
Pengarang                     : Suryana
Tahun                           : Diajukan 24 Oktober 2008; Diterima 20 Januari 2009
Tema                            : Efisiensi Usaha Ternak
Latar Belakang Masalah :
                         Sapi potong merupakan penyumbang daging terbesar dari kelompok ruminansia terhadap produksi daging nasional sehingga usaha ternak ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai usaha yang menguntungkan. Sapi potong telah lama dipelihara oleh sebagian masyarakat sebagai tabungan dan tenaga kerja untuk mengolah tanah dengan manajemen pemeliharaan secara tradisional. Pola usaha ternak sapi potong sebagian besar berupa usaha rakyat untuk menghasilkan bibit atau penggemukan, dan pemeliharaan secara terintegrasi dengan tanaman pangan maupun tanaman perkebunan.
Pengembangan usaha ternak sapi potong berorientasi agribisnis dengan pola kemitraan merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan keuntungan peternak. Kemitraan adalah kerja sama antarpelaku agribisnis mulai dari proses praproduksi, produksi hingga pemasaran yang dilandasi oleh azas saling membutuhkan dan menguntungkan bagi pihak yang bermitra. Pemeliharaan sapi potong dengan pola seperti ini diharapkan pula dapat meningkatkan produksi daging sapi nasional yang hingga kini belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat. Di sisi lain, permintaan daging sapi yang tinggi merupakan peluang bagi usaha pengembangan sapi potong lokal sehingga upaya untuk meningkatkan produktivitasnya perlu terus dilakukan.
Metodologi                        :
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi, dan literatur. Data yang diperoleh peneulis adalah data sekunder karena penulis mengambil data dari Direktorat Jenderal Peternakan (2007). Tahap pengolahan dan analisis data meliputi dua tahap yaitu tahap analisis kualitatif dan kuantitatif.
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sapi potong, pola usaha, dan sistem agribisnis, serta peluang pengembangan. Variable ini saling berhubungan satu sama lain sehingga dapat menjelaskan mengenai pengembangan usaha ternak sapi potong berorientasi agribisnis dengan pola kemitraan.
Hasil dan Analisis              :
                Program pengembangan agribisnis diarahkan untuk memfasilitasi kegiatan yang berorientasi agribisnis dan memperluas kegiatan ekonomi produktif petani, serta meningkatkan efisiensi dan daya saing. Upaya peningkatan daya saing usaha ternak sapi potong rakyat secara teknis dapat dilakukan dengan meningkatkan produktivitas sehingga produknya dapat dijual pada tingkat harga yang cukup murah tanpa mengurangi keuntungan peternak. Perluasan kegiatan ekonomi yang berpeluang untuk dilaksanakan adalah mendorong kegiatan usaha tani terpadu yang mencakup beberapa komoditas, seperti integrasi tanaman ternak atau  tanaman-ternak-ikan.
                Sistem Agribisnis dan Kemitraan Sapi Potong
Pembangunan pertanian dan peternakan berdasarkan konsep agribisnis perlu memperhatikan dua hal penting; pertama, berupaya memperkuat subsistem dalam satu sistem yang terintegrasi secara vertikal dalam satu kesatuan manajemen, dan kedua menciptakan perusahaan-perusahaan agribisnis yang efisien pada setiap subsistem. Jika hal ini dapat terwujud maka daya saing produk peternakan (daging, susu, dan telur) akan meningkat, terutama dalam menghadapi pasar global (Siregar dan Ilham 2003).
Agar pengembangan sistem usaha agribisnis dapat mengakomodasi tujuan untuk meningkatkan daya saing produk dan sekaligus melibatkan peternak skala menengah ke bawah, ada tiga alternatif kegiatan yang dapat dilakukan, yaitu: 1) integrasi vertical yang dikelola secara profesional oleh suatu perusahaan swasta, 2) integrasi vertikal yang dilakukan peternak secara bersama-sama yang tergabung dalam wadah koperasi atau organisasi lainnya, dan 3) kombinasi keduanya atau dikenal  dengan sistem usaha kemitraan.
Kemitraan dimaksudkan sebagai upaya pengembangan usaha yang dilandasi kerja sama antara perusahaan dan peternakan rakyat, dan pada dasarnya merupakan kerja sama vertikal (vertical partnership). Kerja sama tersebut mengandung pengertian bahwa kedua belah pihak harus memperoleh keuntungan dan manfaat. Menurut Saptana et al. (2006), kemitraan adalah suatu jalinan kerja sama berbagai pelaku agribisnis, mulai dari kegiatan praproduksi, produksi hingga pemasaran. Kemitraan dilandasi oleh azas kesetaraan kedudukan, saling membutuhkan, dan saling menguntungkan serta adanya persetujuan di antara pihak yang bermitra untuk saling berbagi biaya, risiko, dan  manfaat.
Sedikitnya ada lima manfaat pembangunan pertanian yang berkelanjutan melalui pendekatan sistem usaha agribisnis dan kemitraan, yaitu: 1) mengoptimalkan alokasi sumber daya pada satu titik waktu dan lintas generasi, 2) meningkatkan efisiensi dan produktivitas produk pertanian/peternakan karena adanya keterpaduan produk berdasarkan tarikan permintaan (demand driven), 3) meningkatkan efisiensi masing-masing subsistem agribisnis dan harmonisasi keterkaitan antarsubsistem melalui keterpaduan antarpelaku, 4) terbangunnya kemitraan usaha agribisnis yang saling memperkuat dan menguntungkan, dan 5) adanya kesinambungan usaha yang menjamin stabilitas dan kontinuitas  pendapatan seluruh pelaku agribisnis.
Peluang Pengembangan
Indonesia memiliki peluang dan potensi yang besar dalam pengembangan sapi potong. Salah satu pendukungnya adalah peternak telah sejak lama memelihara sapi potong dan mengenal dengan baik teknik beternak secara sederhana serta ciri masing-masing jenis sapi yang  ada di suatu lokasi.
Kebijakan impor sapi dan daging sapi dapat menghambat laju pengurasan sapi di dalam negeri, selain menciptakan peluang usaha yang menguntungkan bagi importir sapi potong. Selain itu, upaya pengembangan sapi potong perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain: 1) daging sapi harus dapat dikonsumsi oleh masyarakat dengan harga yang terjangkau, 2) peternakan sapi potong di dalam negeri (peternakan rakyat) secara finansial harus menguntungkan sehingga dapat memperbaiki kehidupan peternak sekaligus merangsang peningkatan produksi yang berkesinambungan, dan 3) usaha ternak sapi potong harus memberikan kontribusi yang positif terhadap  perekonomian nasional.
 
Kesimpulan                        :
                        Sapi potong merupakan salah satu ternak ruminansia yang mempunyai kontribusi terbesar sebagai penghasil daging. Selama ini produksi daging sapi di Indonesia belum mampu memenuhi permintaan dalam negeri yang cenderung meningkat setiap tahun. Oleh karena itu, pemerintah melakukan impor daging sapi dan bakalan antara lain dari Australia, Selandia Baru,  dan Amerika Serikat.
            Persepsi peternak terhadap sistem usaha agribisnis sapi potong dengan pola kemitraan sangat baik. Hal ini ditunjukkan dengan makin berkembangnya usaha ternak sapi potong melalui pola kemitraan yang dilakukan oleh beberapa peternak atau pengusaha peternakan berskala besar karena pola tersebut secara ekonomis memberikan keuntungan yang layak kepada pihak yang bermitra.
Pengembangan usaha ternak sapi potong berorientasi agribisnis dengan pola kemitraan diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi kesejahteraan masyarakat peternak khususnya, dan perekonomian nasional umumnya (Kuswaryan et al. 2004). Hal ini ditunjukkan oleh manfaat ekonomi yang dihasilkan dari kegiatan ini yang bernilai positif, yang berarti bahwa pengembangan peternakan sapi potong dalam negeri  mampu menghasilkan surplus ekonomi.
Rekomendasi                :
Jurnal penelitian ini cukup baik dan informatif tetapi sebaiknya dalam tahap pengolahan data kuntitatifnya menggunakan model matematis agar lebih akurat dan mudah dipahami. Selain itu, dalam hasil dan analisis, penulis sudah menjelaskan dengan detail hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi lokasi industri dengan mendeskripsikannya, tetapi akan lebih mudah dan menarik bila disajikan dengan grafik pula.




Sumber:  Pengembangan Usaha Ternak Sapi Potong Berorientasi Agribisnis Dengan Pola Kemitraan
Mata Kuliah Teori Ekonomi 2 - Dr. Prihantoro

UTILITAS

       Dalam ekonomi mikro, akan berkaitan salah satunya adalah dengan utilitas. Yang dimaksud dengan utilitas adalah jumlah dari kepuasan relatif yang dicapai oleh seseorang dari mengonsumsi barang-barang. Kepuasan bersifat relatif, bukan pointer dan hanya dapat diukur tambahan kepuasannya. Artinya, barang yang dikonsumsi oleh seseorang memiliki kepuasan tertentu, tetapi belum tentu orang lain merasakan kepuasan yang sama oleh orang tersebut. Tambahan kepuasan dapat diukur melalui kurva indiferen. Apabila kurva indiferen menjauhi titik origin, maka kepuasan konsumen akan semakin besar. Semakin tinggi kepuasan seseorang dari mengonsumsi suatu barang, semakin diinginkan barang tersebut oleh seseorang. Sebaliknya, semakin rendah kepuasan seseorang dari mengonsumsi suatu barang, maka barang tersebut akan berkurang nilai gunanya atau semakin tidak diinginkan oleh seseorang.
       Utilitas menjelaskan pemenuhan kebutuhan seseorang. Dari sini sudah diketahui bahwa kebutuhan manusia sangat terbatas, untuk memperoleh kebutuhan tersebut dibutuhkan suatu pengorbanan sesuai dengan kemampuan konsumen tersebut. Kita misalkan, seseorang yang gaji awalnya dapat digunakan untuk membeli suatu barang, dari pemenuhan barang itu orang tersebut dapat merasakan kepuasan. Apabila gajinya berkurang, orang tersebut tidak dapat merasakan kepuasan seperti sebelumnya karena dia tidak dapat membeli barang tersebut seperti sebelum gajinya berkurang. Apabila gajinya bertambah dari gaji awal, orang tersebut juga tidak dapat merasakan kepuasan, melainkan hanya dapat mencapai titik optimum. Dari sinilah kepuasan seseorang tersebut yang dapat diukur dengan kurva indiferen.

Mata Kuliah Teori Ekonomi 2 - Dr. Prihantoro